Yang Paling Menyakitkan

Ada pertanyaan menarik dari satu teman di facebook:

Mana yang paling menyakitkan:
Orang yang paling kamu percaya menyakiti/mengkhianati kamu
atau
Orang yang telah kamu sakiti, masih mempercayai kamu….

Sekilas membaca pertanyaan ini, sepertinya bukan dua buah kondisi yang terbandingkan, seperti membandingkan arang dengan emas. Pernyataan yang pertama, Orang yang paling kamu percaya menyakiti/mengkhianati kamu, adalah suatu kondisi yang sangat menyakitkan, dan pernyataan ke dua, Orang yang telah kamu sakiti, masih mempercayai kamu, adalah suatu kondisi yang sangat membahagiakan.

Benarkah demikian, tetapi mengapa teman ini mempertanyakan mana dari kedua hal tersebut yang paling menyakitkan, padahal dua hal tersebut sudah sangat jelas tak terbandingkan?

Orang yang paling kamu percaya menyakiti/mengkhianati kamu

  • Saat diriku disakiti, apalagi oleh orang yang paling aku percaya, kurasakan sakit yang hebat, aku mengharapkan hal yang baik, bahkan yang terbaik dari orang yang aku percaya, tetapi malah mendapatkan sesuatu yang buruk. Lebih akan terasa ringan kalau orang yang menyakiti atau mengkhianati aku adalah orang yang tidak begitu dekat, atau orang lain yang posisinya netral-netral saja, dan kalau sudah disakiti, ya kutinggal aja, nggak urusan lagi..beres…..
  • Rasa sakit itu datang menghujam, karena aku mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dengan yang aku harapkan, tidak memenuhi ekspektasiku. Aku memasang suatu harga tertentu dari relasiku dengan orang yang aku percayai tersebut, dan menjadi sangat kecewa ketika orang tersebut memberikan sesuatu yang jauh dari harga tertentu yang sudah kupasang dalam relasi kami itu, bahkan orang itu mengambil dariku, bukan memberikan seperti yang aku inginkan. Ternyata rasa sakit yang sangat itu, didasari dari keinginanku untuk mendapatkan, paling rendah aku ingin mendapatkan darinya setara dengan nilai yang telah kutetapkan. Jadi aku dalam posisi mengharapkan untuk menerima sesuatu dari orang yang kupercayai itu.

Orang yang telah kamu sakiti, masih mempercayai kamu….

  • Saat orang yang telah aku sakiti, masih mempercayai aku, kurasakan bahagia yang amat sangat, aku  was-was mengkhawatirkan menerima hal yang tidak baik, kemarahan atau caci maki dari orang yang telah aku sakiti,  tetapi aku malah mendapatkan sesuatu yang baik, masih mendapatkan kepercayaan darinya.
  • Saat Orang yang telah aku sakiti, masih mempercayai aku, aku merasa sangat senang dan bahagia karena aku menerima anugerah yang sangat besar, melimpah ruah. Aku mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dengan yang aku khawatirkan, aku mendapatkan sesuatu jauh di atas ekspektasiku. Sama dengan kondisi saat di sakiti, di sini aku mencantumkan suatu harga tertentu dari relasiku dengan orang yang aku sakiti tersebut saat itu, aku  menetapkan suatu nilai yang sangat rendah, bahkan negatif, siap untuk diperlakukan jelek dan aku menjadi sangat senang ketika orang tersebut memberikan sesuatu yang  jauh berada di atas  harga  yang sudah kupasang dalam relasi kami saat  itu.

Memposisikan diri untuk meminta atau memberi

Nah lho..ternyata rasa sakit yang amat sangat  atau rasa bahagia di atas,  berangkat dari keinginanku untuk mendapatkan, untuk menerima. Satu konsep hidup yang memposisikan diri untuk meminta dan menerima, bukan sebaliknya untuk memberi.

Setelah dan selalu menerima begitu banyak kebaikan setiap saat dari Tuhan dengan cuma-cuma, bahwa setiap detik hidup kita adalah anugerah rahmat cinta yang gratis dari Tuhan, apakah memang tepat aku selalu memposisikan diri untuk terus meminta, meminta dan meminta kepada orang lain, bukannya sebaiknya aku memposisikan diri untuk senantiasa memberi kepada orang lain untuk membagikan kasih yang sudah melimpah ruah aku terima dari Tuhan? Ayo kita lihat kalau konsep hidupku adalah hidup yang ingin selalu memberi, bukan meminta:

Orang yang paling kamu percaya menyakiti/mengkhianati kamu

  • Saat diriku disakiti, apalagi oleh orang yang paling aku percaya, Tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa memberikan hadiah yang sangat berharga untuk orang yang paling aku percayai itu, yaitu memberikan pengampunan dan maaf yang tak terbatas dan tak bersyarat.
  • Rasa  bahagia akan sejuk menyirami hatiku, karena aku bisa memberikan yang paling dibutuhkan oleh orang yang aku percayai tersebut.

Orang yang telah kamu sakiti, masih mempercayai kamu….

  • Saat orang yang telah aku sakiti, masih mempercayai aku, aku berada dalam satu titik tidak memiliki apapun juga, tidak ada satupun yang tersisa dariku untuk bisa kuberikan ke orang tersebut
  • Dan dari konsep hidupku yang senantiasa ingin memberi, aku menjadi sangat sedih, karena aku sangat banyak mendapatkan dari orang yang seharusnya berhak untuk meminta apapun dari aku, dan aku tidak memiliki apapun lagi untuk bisa kuberikan. Aku sangat sedih dan sakit.

Jawaban bagi teman yang luar biasa memberikan pertanyaan yang sangat menarik tersebut bisa saling bertolak belakang, tergantung dari pilihan hidup kita, hidup yang ingin selalu meminta atau hidup yang ingin selalu memberi.

Dan rasa sakit hati yang kurasa, hanya bisa timbul dari reaksi diriku sendiri,  karena aku mematok suatu harga tertentu yang cenderung tinggi, dan mengharapkan orang lain memberiku sesuai nilai yang terpasang di hatiku tersebut. Aku ingat satu lagu bagus, Hanya Debulah Aku di Alas Kaki Mu Tuhan, jadi di ingatkan apalah diriku di hadapan Tuhan, hanya debulah aku, namun Tuhan selalu memberikan cinta dan ampun kepadaku. Dan jika aku memasang nilai diriku setara dengan debu yang tidak berharga, dan aku tidak mengharapkan penghargaan apapun dari orang lain, aku yakin akan menjadi pribadi yang merdeka, yang tidak pernah akan merasa tersakiti oleh apapun dan siapapun juga. Dan jika aku selalu ingat senantiasa menerima ampun dan hidup yang indah dari Tuhan, maka akan senantiasa bersyukurlah aku, dan aku akan menjadi jiwa yang ingin selalu bisa memberi.Insya Allah.

Hanya Debulah Aku

Hanya debulah aku di alas kaki – Mu, Tuhan.
Hauskan titik embun,
sabda penuh ampun.

Tak layak aku tengadah menatap wajah – Mu
namun tetap kupercaya,
maharahim Engkau.

Ampun seribu ampun hapuskan dosa – dosaku.
Segunung sesal ini,
kuhunjuk pada – Mu.

Read: 27 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 13 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.