Pesan Bima yang Terakhir untuk Kami – Dua dari Tiga

Tiga hari belum sepenuhnya sejak  Sabtu, 19 November 2016 kami tiba di rumah Bima di Delft, dan saya merasakan kesan yang kuat atas pesan yang ingin disampaikan Bimo kepada kami, bahwa Bima ingin kami hadir di Delft saat ini, saat Bima telah tiada, saat-saat kami mempersiapkan dan melaksanakan acara mengantar Bimo ke peristirahatannya yang terakhir…rest in peace.

Kuat kurasakan Bima ingin agar  kami melihat dan merasakan sendiri kehidupan Bima di Delft, yang sangat mungkin ada beberapa rasa dan pengalaman seperti ini tidak bisa kami nikmati seandainya Bima masih hidup.

Ada beberapa pesan indah yang saya tangkap dari Bima, dan bisa saya pilah menjadi tiga bagian besar:

  1. Pesan persaudaraan dan cinta
  2. Pesan iman akan kasih Tuhan
  3. Pesan mengenal pekerjaan penerbangan

 

Nah, tulisan ini untuk mendokumentasikan bagian ke dua, yaitu Pesan iman akan kasih Tuhan.

Beberapa cerita yang aku dengar dalam tiga hari ini dari Lala dan teman-teman Bima serta pastor Yan, sangat menguatkan dan menghibur saya dalam menghadapi kesedihan kehilangan Bima yang begitu cepat.

Bagi saya, ada sedikit penyesalan bahwa saya tidak bisa lebih cepat untuk memutuskan segera mencari visa untuk bisa segera terbang ke Delft untuk bertemu Bima sebelum dipanggilNya. Namun jika aku ingat kembali perjalanan saat kabar mula mengetahui Bima sakit, ya dari Bima sendiri beberapa saat setelah Bima dan Lala kembali dari USA. Dan kabar dari Bima terasa sangat ringan kesan yang kuterima. Bima “hanya” mengatakan agak sakit, batuk-batuk dan agak sesak nafas.

Bayanganku saat itu ooo, Bima sedang agak capek setelah perjalanan ke USA dan perlu istirahat sebentar agar sehat kembali.

Komunikasi masih kami lakukan lewat WAG Kerten, kami berempat Agung, Novi, Bima dan saya. Kemudian eskalasi kabar “agak” meningkat dari penerimaanku, bahwa Bima mengidap kanker di rongga dadanya, dan kabar baiknya paru-parunya baik, tidak ada kanker di paru-parunya. (Ini kesan yang saya tangkap selama ini, dan saya tidak tahu pasti kenyataannya). Dan pesan tingkat tinggi yang aku terima, dan segera saya mengurus visa Belanda adalah ketika mendapat berita bahwa penyakit Bima tidak bisa diobati secara medis lagi. Saya merasakan kegawatannya, namun juga tidak menyangka bahwa proses Bima dipanggil Tuhan sedemikian sangat cepatnya.

Cerita dari Lala dan teman-temannya di Belanda, Bima melalui hari-hari terakhirnya dengan sangat tabah. Keluhan-keluhannya relatif ringan, “hanya” kadang sesak nafas, sulit tidur karena kurang nyaman di salah satu sisi badannya, sehingga tidurnya perlu agak miring, dan di hari-hari terakhir agak mengigau. Saat Lala cerita Bima mengigaupun, kesan “biasa” pun masih ada di pikiran saya, karena Bima waktu kecilpun kadang mengigau kalau tidur.

Lala cerita tentang Bima yang sangat sedikit meminum obat penahan rasa sakitnya. Entah karena Bima tahan terhadap rasa sakit yang tinggi atau memang rasa sakitnya tidak terlalu kuat menyiksanya, sehingga Bima masih nyaman. Keputusan tim medis di Belanda yang menyatakan Bima tidak bisa diobati lagi, dan tidak perlu dirawat di rumah sakit, menurut saya suatu hal yang sangat baik, sehingga Bima bisa nyaman di rumah bersama orang-orang yang sangat mencintainya, Kayla, Luke, Lala dan teman-teman dekatnya.

Teman-teman Bima bercerita bahwa hari Minggu terakhir sebelum Bima dipanggil, di pagi hari Bima sangat kuat mendesak ingin dipanggilkan pastor dan minta komuni. Keinginan kuat ini sangat kuat, bahkan ketika diberitahu bahwa sudah dijadwalkan pastor akan datang dengan komuni pada jam 3 sore pun, Bima masih kuat mendesak, bahkan agak “marah” meminta agar pastor dan komuni segera datang saat itu juga. Baru ketika diberi tahu, bahwa saat itu pastor sedang mengunjukkan misa bersama-sama umat untuk juga mendoakan Bima, dan segera setelah misa akan datang ke rumah, Bima bisa menerima dan sabar menunggu.

Pastor Yan secara khusus bercerita dengan detail kepada saya tentang saat hadir di rumah menemui Bima di hari Minggu itu. Pastor Yan menggambarkan betapa Bima sangat merindukan Tuhan dalam komuni, berdoa dengan sangat khusuk, menerima komuni dengan penuh rasa syukur dan meminta berkat dengan kesungguhan sepenuh hati, dan segera siap untuk menerima panggilan Tuhan yang penuh cinta.

Meski baru tiga hari di Delft, saya sangat bisa merasakan apa yang dirasakan Bima di saat-saat hari terakhirnya. Saya membayangkan dalam saat-saat sulit menghadapi kondisi kesehatannya, Bima mendapatkan banjir cinta dari Kayla, Luke dan Lala dan dari teman-teman dekatnya mbak Lelan, mas Erwan,  mas Kondi, mbak Iin, mas Tri mbak Enik, yang mencintai Bima dengan hati dan tangannya menciptakan surga kecil bagi Bima di akhir hidupnya di dunia ini, dengan segala pelayanan yang mereka berikan kepada Bima.

Kesan Bima sakit biasa,  tidak ingin banyak orang yang tahu, dan belum akan cepat dipanggil Tuhan masih kuat di kepala saya, bahkan sampai akhir-akhir hidup Bima. Dan saya yakin, ini yang Bima inginkan, Bima tidak ingin merepotkan banyak orang, dan Bima ingin adik-adik dan kakaknya bisa berkumpul di Delft  saat mengantar Bima ke peristirahatannya, agar adik-adik dan kakaknya bisa melihat sendiri dan merasakan kasih Tuhan yang telah Bima terima di Delft.

 

Read: 12 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.