Menggunakan Heart Rate Monitor Bluetooth dengan Strava dan Endomondo

Setelah cukup lama bersepeda tanpa menggunakan alat pengukur detak jantung, setelah sekian lama tidak menggunakan Garmin Forerunner 410 yang putus tali gelangnya, setelah menunggu hampir dua bulan proses pembellian melalui salah satu toko online, akhirnya di bulan Juli 2015, saya bisa memulai melakukan olah raga, terutama bersebeda dengan menggunakan alat pengukur detak jantung (heart beat rate) kembali.

Alat pengukur detak jantung yang akan saya gunakan berbeda dengan yang pernah saya gunakan sebelumnya menggunakan Garmin Forerunner 410. Kali ini saya akan menggunakan  Menteq, satu alat yang hanya berupa pendeteksi detak jantung yang dipasang di dada (yang sudah dilengkapi dengan sabuk pemegangnya), yang dengan bluetooth akan mengirim signal ke gadget baik iphone dengan IOS atau ke device berbasis android. Saya sudah test, alat ini bisa bekerja sama, baik dengan iphone 5 maupun dengan HP Lenovo berbasis Android.

Cara pengesetan sangat mudah. Tinggal pasang alatnya di depan dada sebelah kiri dengan alat bantu sabuk yang sudah disediakan, dan mengaktifkan bluetooth connection di iphone atau android, kemudian connect ke device pengukur detak jantung ini, kemudian masuk ke apliksi monitor perjalananyang diinginkan. Dalam hal ini saya sudah melakukan pengetesan dengan Strava dan Endomondo, keduanya bisa mendeteksi heart beat rate secara langsung.

Heart Rate Monitor (HRM)

Ada banyak pilihan HRM yang bisa digunakan. Kalau sebelumnya saya menggunakan HRM Garmin Forerunner 410, yang merupakan satu kesatuan HRM yang lingkarkan di dada, dan semacam jam tangan untuk menangkap signal sekaligus menyimpan data, untuk kali ini saya mencoba menggunakan MEMTEQ Hearth Rate Monitor (Smart Device using Bluetooth4.0 technology) yang bisa tersambung baik ke iphone 5, iphone 4S, maupun system Android (saya mencoba dengan Lenovo). Sangat mudah untuk menggunakan unit ini:

  1. Buka dari bungkusnya, akan ada 2 barang di dalamnya: Heart rate transmitter dan Heart rate chest strap(yang akan digunakan sebagai pemegang, untuk dilingkarkan di dada kita. Di dalam heart rate transmitter sudah dipsang batteray CR2032 yang menurut manual, akan tahan digunakan selama satu tahun, untuk nanti bisa diganti jika sudah habis
  2. Pasang Heart Rate Transmitter ke Heart Rate Chest Strap di tempat yang sudah disediakan. Perhatikan tanda LEFT dan RIGHT di Heart rate transmitter. (Pemasangan ini bisa juga dilakukan setelah heart chest strap sudah terpasang di dada kita)
  3. Untuk menggunakannya, basahi dengan sedikit air conductive pads di bagian belakang heart rate chest strap yang akan menempel di dada kita. Hal ini untuk memastikan bisa kontak langsung antara bagian tersebut dengan dada kita
  4. Kemudian sabukkan di dada kita agak ke bawah, kira-kira di posisi jantung
  5. Nah, sekarang saatnya menghubungkan ke unit iphone atau Android yang akan kita gunakan untuk monitor:
    • Dari Setting, Network, hidupkan Bluetooth dan connectkan ke Heart Rate Monitor kita
    • Dari software/aplikasi yang akan digunakan untuk melakukan pencatatan perjalanan, silakan diconnectkan ke Heart Rate Monitor kita. Saya sudah mencoba berjalan baik dengan Endomondo dan Strava

Memastikan detak jantung (heart beat rate), beroperasi pada tingkat yang aman.

Mengetahui Heart Rate sepanjang Jalan
Mengetahui Heart Rate sepanjang Jalan

Sebenarnya kondisi ini bisa dirasakan sendiri dengan merasakan derajat keterengah-engahan, terutama saat bersepeda di jalan yang menanjak. Karena saya menganggap bahwa satu hal ini sesuatu yang sangat kritikal, saya menggunakan alat bantu pengukur detak jantung yang terus memonitor detak jantung sepanjang jalan, dan angka  selalu tersedia di depan mata. Saya pernah menggunakan alat produk dari Garmin, Forrunner 410, yang berbentuk seperti jam tangan yang selalu menampilkan angka detak jantung (heart beat rate) berdasarkan informasi yang diterima dari satu alat  yang di pasang di lingkaran dada, setiap saat. Dan sekarang mulai menggunakan iphone dengan software Strava untuk memonitor setiap saat.

Detak jantung maksimal saat beraktifitas secara teori dihitung dengan rumus sederhana:  Heart Rate Max = 220 – Usia. Contoh: Usia= 51 tahun, maka Heart Rate maximum = 220 – 51 = 169. Dan saya selalu memastikan untuk tidak pernah melampui detak jantung sebesar itu. Langsung berhenti, beristirahat ketika angka detak jantung mendekati angka tersebut.

capture

Read: 199 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =