Gowes Yogya-Pati 180 km

Gowes Yogya-Pati, 180 km dalam rangka memperingati hari ulang tahun Bang Yos yang ke 64 sangat dinanti-nantikan. Bukan hanya karena janji rute yang epic  endurance yang akan menantang untuk mempush limit kami masing-masing, namun juga  janji sajian sate dan Sego Gandul Pati dari bang Yos yang berbahagia yang membuat kami lebih semangat untuk melaksanakan Gowes Yogya-Klaten-Solo-Gemolong-Purwodadi Grobogan-Kayen-Jakenan Pati, sejauh lebih dari  180 km lebih pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016. Dan semangat itu semakin berkobar karena rasa cinta kami semua pada bang Yos , teladan dan teman kami yang meskipun sudah berusia 64 tahun, namun kemampuan fisik bersepedanya masih berada di papan atas di antara kami teman-temannya, selalu konsisten berjalan di depan di semua medan.

 

Sabtu pagi janjian jam lima kumpul di Sambilegi. Berangkat bersama sekitar jam 05:30 pagi menuju Klaten. Istirahat sebentar di tempat pengisian bensin di Klaten, dan terus melanjutkan perjalanan ke tempat sarapan di Laris Manis Kerten Solo. Perjalanan dari Yogya ke Solo bisa kami lakukan bersama-sama dalam satu kelompok, dengan kecepatan yang menyenangkan di pagi yang sejuk.

captureSelepas sarapan di Kerten Solo, perjalanan menuju ke Purwodadi berlanjut tidak seperti halnya perjalanan Yogya-Solo yang terus “ngempel” jadi satu rombongan peleton. Perjalanan Solo-Purwodadi kami tempuh dengan agak terpisah-pisah dalam jarak yang tidak terlalu jauh diantara kami,  sesuai dengan kenikmatan kecepatan dan kekuatan masing-masing. Yang konsisten terus di paling belakang adalah mas Rofi yang sangat setia mengawal siapapun yang berada di paling belakang.

Setelah keluar dari kota Solo, jalan cukup ramai dan tidak begitu lebar, dan dibeberapa titik jalan tidak begitu mulus. Kami sangat beruntung pagi itu, cuaca sangat nikmat. Mendung menjadi sahabat yang menyenangkan dalam bersepeda hari itu.

Pemandangan dan topologi jalan menjadi sangat menarik ketika memasuki kawasan hutan Gundih. Jalan yang sedikit naik dan turun, di tengah hutan yang rindang pepohonan yang tinggi menjulang menjadi hiburan yang mengasyikkan ditambah dengan bau daun khas hutan dan suara-suara-suara binatang serta  rintik-rintik hujan…sangat menyenangkan. Sebentar kami beristirahat bersama di satu warung kecil di tengah hutan untuk menikmati teh, dan tentunya berfoto-foto bersama sambil membentangkan spanduk 🙂

Keluar dari hutan Gundih, perjalanan berlanjut menuju ke Kota Purwodadi, dan beristirawat sejenak di Masjid Agung Purwodadi. Perjalanan menuju Purwodadi terus kami lakukan ditengah-tengah hujan yang tidak begitu lebat, yang membuat badan menjadi sangat nikmat. Jauh lebih nikmat dibanding bersepeda di cuaca yang panas. Di Purwodadi kami juga makan siang bersama di salah satu tempat makan di tengah kota Purwodadi.

Kumpulan foto-foto lain bisa dilihat di sini.

 

Tantangan berikutnya yang sudah kami tunggu-tunggu adalah rute berikutnya yang akan segera kami lalui selepas Purwodadi ini, yaitu Jatipohon. Beberapa hari terakhir ini kami mencari-cari informasi mengenai Jatipohon, dan hari itu kami benar-benar menikmatinya. Bagi saya, ini satu tempat yang luar biasa menantang,  setelah lebih dari 130km mengayuh sepeda dari pagi hingga siang, sampailah kami Jatipohon.

Jatipohon memang beda. Di beberapa segmen tanjakan yang sebenarnya hanya sejauh 3.5km,  saya memilih berhenti dan beristirahat sejenak, dan di beberapa tanjakan saya memilih untuk menuntun sepeda, karena memang tidak kuat untuk terus mengayuh sepeda. Dan bukan hanya di tanjakan saja, di beberapa turunan saya juga memilih untuk menuntun, meskipun teman-teman lain dengan berani terus berada di sadel sepeda menikmati turunan-turunan yang kata mereka sangat menggairahkan. Aku ra popo bedo karo kancane…nuntun juga enak.

Selepas puncak Jatipohon jalan terus menurun tajam sampai Kayen. Dan dari Kayen kami kembali bersepeda bersama-sama dalam satu rombongan menikmati perjalanan etappe terakhir menuju Jakenan, termasuk melalui jalan-jalan di tengah sawah yang indah.

Kumpulan foto-foto lain bisa dilihat di sini.

 

 

Setelah mampir makan malam/sore di sate langganan bang Yos, kami langsung meluncur ke rumah bang Yos di Jakenan, Pati, masih dalam udara yang dihiasi air hujan yang menyegarkan. Rumah bang Yos berada di tengah-tengah desa, satu halaman dengan masjid yang dibangun oleh keluarga bang Yos.

 

Rumah bang Yos tempat kami bermalam terletak di Desa Dukuh Mulyo, Jakenan Pati, yang merupakan rumah bang Yos semasa kecil, yang saat ini  ramai dikunjungi warga sekitar untuk beribadah di masjidnya. Hari sudah malam ketika kami tiba, dalam kondisi basah kuyup dan sangat kotor diguyur hujan dan cipratan roda sepeda sepanjang jalan.  Kami segera mandi di empat buah kamar mandi yang tersedia baik di dalam rumah maupun di belakang masjid, dan semua langsung menempatkan diri tidur ramai-ramai, baik di ruang tengah rumah bang Yos maupun di dalam masjid.

Pengalaman seru yang menyenangkan dalam merayakan ulang tahun bang Yos. Satu hal yang saya syukuri hari itu, iming-iming pickup yang sering berdiri di depan saya di tanjakan-tanjakan tajam, tidak menggoda iman saya untuk nyengklak naik ke atas pickup dan leyeh-leyeh. Secara sadar saya memilih untuk menaklukkan Yogya-Pati dengan bersepeda, termasuk dengan menuntun kalau perlu.

 

 

 

Read: 83 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + nineteen =