Berbagi Berkat Penuh Cinta

Siang tadi bersama Chela, sekitar 90 menit kami duduk di ruang tunggu periksa di klinik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Memang janjian dengan dokternya masih jam tiga sore, namun karena tanggung, sudah berada di luar rumah, baru jam dua lebih sedikit kami telah masuk ke ruang tunggu.

Selagi Chela sibuk dengan iphonenya, katanya membaca pelajaran untuk persiapan ujian, saya yang baru pagi tadi melihat video kiriman Mita tentang ayo peduli, lepaskan gadget, duduk manis menikmati siatuasi ruang tunggu. Menarik, meski hanya menjadi pengamat tanpa berinteraksi langsung dengan mereka.

Persis di depan kami, ada dua orang ibu yang sangat intents berdiskusi, berbicara dengan penuh semangat, saling timbal balik. Dari pengamatanku, kemungkinan mereka sedang diskusi untuk mengisi formulir asuransi kesehatan. Mungkin lho…lha wong saya tidak begitu fokus mendengarkan materi pembicaraannya, namun lebih menikmati semangat mereka berdiskusi.

Masih banyak lain yang saya amati, namun ada satu keluarga yang sangat menarik perhatianku. Awalnya datang seorang ibu muda dengan putranya yang masih kecil mendorong seorang ibu yang lebih tua yang duduk di atas kursi roda. Tentunya tahu yaaa, yang didorong kursi rodanya yaaaa, bukan ibunya yang didorong-dorong dari kursi roda. Aneh kalau sampai nggak tahu.

Mulanya biasa saja, mereka bertiga saling diam, duduk dengan wajah yang netral lebih kearah sedih. Nah, disini mulai menariknya, ketika tiba seorang laki-laki muda, yang kuasumsikan sebagai suami dari ibu muda yang mendorong kursi roda tadi. Laki-laki muda ini datang, dengan mengacung-acungkan jempol ke arah tiga orang yang tadi datang lebih dahului. Bapak muda ini datang dengan mengacung-acungkan jempol dengan wajah yang berseri-seri penuh senyum.

Dari kejauhan, dari tempatku duduk, kuperhatikan laki-laki muda tadi mengatakan sesuatu, dan rasanya dia mengatakan bahwa mendapatkan nomor antrian bagus…kayaknya nomor 17…kayaknya lho, pokoknya angka yang bagiku nggak ada istimewa-istimewanya, atau angka nomor satu, agar cepat dipanggil…..nomor yang biasa saja bagiku…tapi kemudian, sang anak kecil, ibu muda dan ibu yang di kursi roda meresponse dengan senyum, dan wajah mereka berempat menjadi berseri-seri saling berbicara satu sama lain. Mungkin memang angka itu bermakna bagi mereka, atau memang mereka mensyukuri angka yang didapat itu dengan penuh kegembiraan.

Tidak berhenti sampai disitu, sang bapak yang ceria ini berjalan ke arah tempat air minum gratis yang disediakan rumah sakit, kemudian mengambil gelas, mengisi air putih dan berjalan kembali memberikan ke ibu yang duduk di kursi roda. Dan ketika anaknya yang kecil meminta juga, bapak muda ini kembali berjalan ke arah tempat air minum gratis yang disediakan rumah sakit, kemudian mengambil gelas, mengisi air putih dan berjalan kembali memberikan ke anaknya.

Masih kembali lagi dengan wajah penuh senyum, ceria melihat-lihat bungkusan-bungkusan kopi, the, gula dan dari kejauhan menawari anaknya…..

Mungkin biasa saja bagi sebagian besar orang, tapi bagiku, ini sangat luar biasa..saya belajar banyak dari bapak muda yang sederhana ini, yang sangat antisias melayani, memaknai sesuatu yang sederhana sebagai suatu keindahan, dan penuh suka cita membagi berkat bagi keluarganya. Dan dia mungkin tidak merasakan, bahwa di telah membagi berkat cintanya kepadaku. Dia melakukan banyak hal kecil-kecil dengan cinta yang sangat besar.

Semoga Tuhan memberkati anda, keluarga anda dan seluruh usaha anda. Terima kasih.

Read: 11 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.